Sempat Mabuk Ketinggian, tetap Tampil Habis-Habisan
Wdnsdy - August 21, 2018

Selama empat hari, 16-19 Agustus, Azrul Ananda dan John Boemihardjo mengikuti lomba bergengsi Colorado Classic di Amerika Serikat. Melihat langsung bagaimana sebuah tim balap profesional perempuan beroperasi, mengapresiasi kerja keras dan semangat mereka di cabang yang masih sering dipandang sebelah mata.

Azrul Ananda dan John Boemihardjo merupakan founder dari PT Sepeda Wdnsdy Indonesia, merek sepeda balap high performance yang baru berdiri pada 2017. Walau baru, sepeda mereka, Wdnsdy AJ1, sudah tampil full time di arena balap Amerika. Bersama Point S Auto-Nokian Tyres, sebuah tim balap profesional perempuan yang bermarkas di Portland, Oregon.

Tim Point S Auto-Nokian Tyres Wdnsdy Bike. dari kiri : Molly Cameron, John Boemihardjo, Esther Meisels, Melanie Wong, Sophie Russenberger, Beth Ann Orton, Hanna Muegge, dan Azrul Ananda.

Colorado Classic, alias Tour of Colorado, merupakan salah satu lomba terbesar yang mereka ikuti tahun ini. Sekaligus menjadi lomba besar penutup musim road racing 2018.

Balapan ini merupakan salah satu yang terbesar di Amerika, berkelas UCI 2.HC. Baik kategori laki-laki maupun perempuan menampilkan empat etape, di kota Vail dan Denver.

Di kategori laki-laki, sejumlah tim WorldTour berpartisipasi, seperti Trek-Segafredo, EF Education First-Drapac, Mitchelton-Scott, dan LottoNL-Jumbo. Bertarung melawan tim-tim Pro Continental kuat Amerika dan beberapa negara lain.

Di kategori perempuan, total ada 15 tim berpartisipasi, tergolong yang terbaik di Amerika (dan sekitar). Salah satunya adalah Point S-Nokian, yang dimanageri oleh Molly Cameron.

Suasana tim briefing yang dipimpin oleh Beth Ann Orton.

Colorado Classic bukanlah balapan yang mudah. Utamanya karena lokasinya di pegunungan, di dataran tinggi. Vail misalnya, adalah sebuah kota resort yang berada di ketinggian lebih dari 2.500 meter. Di posisi itu, oksigen bisa berkurang sekitar 25 persen. Kalau badan tidak cepat beradaptasi, hasilnya bisa menyakitkan.

“Para pembalap kami ada yang memang tinggal di Colorado. Beberapa datang beberapa pekan sebelum lomba untuk beradaptasi. Walau ada juga yang datang hanya dalam hitungan hari sebelum lomba,” ungkap Molly Cameron.

Hanna Muegge saat tampil di Colorado Classic Etape 2 Vail Time Trial.

Di lomba ini, tim menurunkan enam pembalap (sesuai regulasi). Sebagai kapten adalah Beth Ann Orton, pembalap senior yang tergolong sepuluh besar best time trialist di Amerika. Dari Colorado ada Sophie Russenberger, juara dua nasional tingkat universitas, plus Nicole Pressprich. Kemudian ada pembalap muda berpotensi besar, Esther Meisels.

Beth Ann Orton, kapten tim Point S-Nokian saat tampil di Colorado Classic Etape 1 Vail Circuit Race. 

Dari California, ada dua pembalap berpengalaman. Yang pertama Melanie Wong, juara negara bagian California. Lalu ada Hanna Muegge, yang lahir di Jerman dan pernah jadi pemain basket tim nasional negara tersebut!

Pasukan tim ini bukanlah tipikal pemburu general classification (GC). Kebanyakan adalah jago sprint dan criterium. Tapi, mereka masih yakin bisa meraih hasil baik, mengingat tiga dari empat etape Colorado Classic berpotensi berakhir dengan sprint.

Esther Meisels bersiap melawan waktu di Colorado Classic Etape 2 Vail Time Trial. Dia berhasil masuk finis peringkat 9 di Etape 4 Denver Circuit Race.

Memasuki etape pertama, circuit race yang naik turun di tengah kota wisata Vail Village, tim ini punya semangat membara.

Sebagai partner tim, Azrul dan John bergantian dapat kesempatan mengikuti etape pertama dari dalam mobil tim. Mengikuti lomba dari belakang peloton.

Walau tidak banyak yang bisa dilihat di belakang, tapi kesempatan itu memberi pengalaman berharga. Apalagi di lomba kelas dunia.

Azrul Ananda mendapatkan kesempatan berharga bisa mengikuti lomba Colorado Classic Etape 1 Vail Circuit Race dari dalam mobil tim bersama Molly Cameron.

Sayangnya, di etape pertama ini, dua pembalap Point S-Nokian harus tereliminasi. Russenberger dan Pressprich sama-sama tertinggal peloton, tak mampu finis di dalam time limit. Ironisnya, keduanya sama-sama asal Colorado.

Sebagai manager tim, Cameron mengaku antara kecewa dan memaklumi. Lomba memang keras dari awal, semua langsung tancap gas. “Sophie misalnya, dia pembalap muda. Kadang dia luar biasa, kadang dia seperti ini. Secara fisik dia masih berkembang,” jelasnya.

Walau hanya tersisa empat pembalap, tim ini tetap profesional dan memburu hasil terbaik. Toh, mereka bukan satu-satunya tim yang kehilangan pembalap.

Dan sebenarnya, Point S-Nokian nyaris kehilangan pula Melanie Wong. Malam setelah etape pertama, dia jatuh sakit. Pusing-pusing, mual-mual.

Rupanya, Melanie Wong terkena altitude sickness (sakit/mabuk ketinggian), yang normal menerpa orang di lokasi seperti Vail. Apalagi dia baru saja balapan habis-habisan.

“Saya sudah merasa kurang enak badan sebelum lomba. Tapi setelah itu rasanya tidak enak sekali,” ungkapnya.

Malam itu, Melanie Wong diistirahatkan total. Tidur sebanyak mungkin, minum air putih sebanyak mungkin. Keesokan harinya, dia mampu ikut balapan. Tidak dalam kondisi maksimal, tapi bisa mengikuti etape time trial menanjak ke Vail Pass.

“Kadang kita memang ingin balapan. Tapi kadang kita memang harus balapan,” tulisnya dalam akun sosmed.

Tiba di Denver, tim ini semakin bersemangat. Sebab, dua etape di kota terbesar Colorado itu adalah criterium dan circuit race.

Tim Point S-Nokian sedang melakukan pemanasan sebelum balapan di Colorado Classic.

Di etape ketiga, seluruh anggota tim mampu terus menempel di peloton utama. Esther Meisels pada akhirnya finis di urutan 11. “Kamu tahu posisi finis yang lebih buruk dari 11? Posisi empat!” katanya lantas tersenyum.

Di etape keempat, tim ini kembali berusaha meraih hasil terbaik. Beth Ann Orton dan Hanna Muege dapat tugas mengawal bagian depan peloton. Mengejar dan membantu menetralisir siapa pun yang mencoba melarikan diri (breakaway).

Meisels dan Wong adalah sprinter. Harus semaksimal mungkin “istirahat” di dalam peloton untuk melejit maksimal di saat menentukan.

Sayang, kurang satu putaran, Wong tertahan kecelakaan. Setelah itu dia bekerja keras menuju barisan depan. Finis di peloton utama, tapi tak mampu ikut bersaing di posisi paling depan.

Sayang, di Colorado Classic Etape 4 Melanie Wong tertahan kecelakaan dan harus bekerja keras menuju barisan depan bersama peloton utama, tapi tak mampu ikut adu sprint.

Meisels mampu ikut adu sprint, dan akhirnya finis di urutan sembilan. Masuk Top Ten!

“Tahun depan, kalau kalian datang lagi, saya akan menang,” katanya kepada Azrul dan John.

Secara keseluruhan, para pembalap Point S-Nokian sangat senang dengan sepeda Wdnsdy AJ1. “Saya sudah menjadi pembalap profesional sangat lama. Saya sudah naik begitu banyak sepeda. Jadi saya tidak main-main kalau bilang sepeda ini sangat hebat,” kata Beth Ann Orton.

Hanna Muegge, yang di Colorado berstatus pembalap tamu, juga sangat suka dengan AJ1, membandingkannya dengan merek sepeda lain yang dia naiki bersama tim lain.

“Ini kali pertama saya mengendarai sepeda ini, di stage race seperti ini. Dan ini frame yang sangat, sangat fenomenal,” puji Muegge. “Saya ini tergolong hati-hati di turunan. Tapi karena ini sepeda yang sangat stiff (kaku), saya bisa langsung merasa nyaman di turunan,” lanjutnya.

Etape ketiga, yang berawal hujan dan penuh dengan adu akselerasi, membuat Muegge semakin kagum. “Sepeda ini feel-nya bagus sekali dan akselerasinya fenomenal. Ini benar-benar sepeda yang amazing,” tandasnya.

Dari depan : Hanna Muegge, Melanie Wong dan Beth Ann Orton sangat puas dengan performa sepeda merek Indonesia, Wdnsdy AJ1.

Menurut Molly Cameron, bahwa timnya bisa kompetitif di lomba sekelas Colorado Classic adalah sebuah kebanggaan. Dan dia akan berusaha keras agar timnya terus berkembang. Targetnya bukan sekadar ikut lomba-lomba top di Amerika, tapi juga segera masuk level dunia UCI.

Usai Colorado Classic ini, secara umum musim road racing di Amerika memang berakhir. Banyak pembalap akan turun ke seri musim gugur/dingin, yaitu balapan cyclocross. Sebelum kembali lagi ramai musim road pada musim semi/panas 2019.

Azrul Ananda dan John Boemihardjo mengaku bangga dan setengah tidak percaya sepeda mereka bisa ikut balapan di Amerika, di level seperti ini.

“Kami membuat Wdnsdy terus terang setengah iseng. Kami sangat gila bersepeda dan ingin menunjukkan ada merek sepeda Indonesia yang dibuat dengan passion dan punya performa kelas dunia. Kami ingin bisa terus mempopulerkan olahraga ini, khususnya di Indonesia. Kami beruntung bisa bertemu rekan seperti Molly Cameron dan para pembalap Point S-Nokian. Masukan-masukan mereka akan membuat sepeda Wdnsdy Indonesia semakin hebat di masa mendatang,” pungkas Azrul. (mainsepeda)

Azrul Ananda dan John Boemihardjo berbincang santai dengan Molly Cameron dan seluruh pembalap tim Point S Nokian di Vail. Masukan mereka akan membuat sepeda Wdnsdy Indonesia makin hebat di masa yang akan datang.

Foto : Brice Hansen, tim mainsepeda